Harimau satwa terancam punah - Bayun Ranum Kinanti (068)
Harimau merupakan salah satu satwa yang terancam
punah. Di seluruh dunia diperkirakan tersisa 6 jenis harimau dan jumlahnya
tidak lebih dari 6000. Meskipun termasuk dalam hewan yang dilindungi, di alam
liar tetap saja terjadi perburuan liar terhadap harimau. Entah apa motif oknum yang tidak bertanggung
jawab itu, sehingga mereka tetap berburu harimau. Selain itu, penebangan hutan
secara besar besaran juga berpengaruh terhadap berkurangnya populasi harimau.
Di Indonesia, ada tiga jenis harimau, yakni Harimau
Sumatera, Harimau Jawa, dan Harimau Bali. Namun sayang, Harimau Jawa dan
Harimau Bali telah dinyatakan punah. Kini hanya tersisa Harimau Sumatera yang
jumlahnya diperkirakan tersisa 400 ekor. Sesuai dengan namanya, harimau ini
adalah hewan endemik di pulau Sumatera. Yang membedakan harimau jenis ini
dengan harimau lainnya adalah ukurannya yang sedikit lebih kecil dari jenis
harimau lain. Meskipun kecil, namun kekuatannya sama dengan harimau lain.
Entah sampai kapan harimau dapat bertahan di alam liar
dengan keadaan sekarang ini. Jika perburuan liar dan penebangan hutan masih
dilakukan, bisa saja harimau punah, dan tidak ada harimau lagi di alam liar. Pemerintah
pun sudah mengupayakan perlindungan harimau, dengan membuat undang-undang
perburuan liar dan patroli hutan. Namun, ada saja oknum yang bandel, masih
nekat berburu harimau. Mungkin cara yang dapat dilakukan adalah memberi edukasi
kepada masyarakat awam akan pentingnya menjaga habitat harimau dan satwa
lainnya.
Jika biasanya warga menggantungkan ekonomi dengan cara
berburu, maka diberi edukasi dan bimbingan untuk mencari pekerjaan lain. Entah
itu mengembangkan pariwisata ataupun yanglainnya. Yang menjadi polemik adalah
penebangan liar dengan tujuan ditanami kelapa sawit. Polemik ini masih menjadi
perdebatan, karena kelapa sawit sendiri menyumbang devisa negara yang besar.
Tetapi disisi lain, perkebunan kelapa sawit sangat merusak ekosistem hutan.
Berbicara tentang harimau, tahun ini di India telah
terjadi dua kali insiden penembakan harimau. Yang pertama adalah penembakan
harimau di distrik Yavatmal. Menurut Ashgar Ali Khan, penembakan dilakukan
karena harimau tersebut telah membantai 13 warga setempat. Namun penembakan
tersebut menjadi kontroversial karena sang penembak tidak menggunakan tembak
bius, namun langsung menembak mati harimau. Sebagian pihak, berpendapat bahwa
seharusnya harimau itu ditembak bius saja tidak perlu ditembak mati.
Yang kedua adalah ditembaknya harimau yang memasuki
pemukiman warga, tak puas dengan menembaknya, harimau malang itupun dilindas
dengan traktor. Menurut seorang warga hal itu wajar karena harimau tersebut
telah membuat warga desa resah. Hal ini membuat organisasi pecinta hewan di
dunia geram. Menurut mereka, hal ini sangat tidak etis, karena harimau tersebut
hanya perlu di beri tembakan bius tanpa perlu ditembak mati, apalagi sampai
dilindas traktor. Menurut mereka juga, ini bukan kesalahan harimau, namun
kesalahan manusia yang telah megambil lahan para harimau dan satwa yang lain.
Harimau memang hewan buas, tetapi mereka tidak akan
menyerang apbila tidak merasa terancam. Para harimau ataupun satwa lain
memasuki pemukiman warga juga karena mereka tidak punya lahan untuk berburu
mangsa. Miris memang, manusia yang berbuat kesalahan, tetapi tidak mau
disalahkan dan malah menyalahkan hewan. Entah sampai kapan lagi hutan dan
isinya akan tetap bertahan di bumi dengan keadaan yang sekarang ini. Seharusnya
kita yang diberi pikiran oleh Tuhan harus menjaga lingkungan ini, bukan malah
merusaknya, dan memperburuk keadaan di bumi.
Promo Fans^^poker :
BalasHapus- Bonus Freechips 5.000 - 10.000 setiap hari (1 hari dibagikan 1 kali) hanya dengan minimal deposit 50.000 dan minimal deposit 100.000 ke atas
- Bonus Cashback 0.5% dibagikan Setiap Senin
- Bonus Referal 20% Seumur Hidup dibagikan Setiap Kamis