POHONKU HABIS KARENA TISU - HILDA REVA AULIA (076)
Tisu,
helaian kertas tipis dan lembut yang memiliki daya serap tinggi. Tisu sangat
erat dengan kehidupan sehari - hari, mulai dari aktivitas di dalam ruangan,
luar ruangan, hingga aktivitas di toilet menggunakan kertas tipis ini. Berbagai
macam produk – produk tisu yang diciptakan sesuai kegunaannya, membuat
masyarakat semakin tertarik mengkonsumsinya. Konsumsi tisu yang tinggi, membuat
perilaku boros pemakaian tisu menjadi hal yang biasa. Hal ini memiliki dampak
yang besar terhadap lingkungan.
Pada
awalnya tisu lebih banyak digunakan untuk toilet. Namun sekarang tisu menjadi
fasilitas yang wajib di tempat makan. Selain itu, produksi tisu juga terus
berkembang dengan berbagai bentuk dan pengemasan. Hal ini membuat konsumsi tisu
di Indonesia ke depannya akan terus meninggkat, seiring dengan perubahan gaya
hidup dan peningkatan daya beli masyarakat Indonesia.
Permintaan
tisu yang terus meningkat ini berdampak pada hutan alami yang menjadi rumah
bagi para satwa liar. Bukan hanya itu, dampak dari penggunaan tisu juga dapat
menyebabkan hutan menjadi gundul dan global
warming. Bagaimana bisa tisu menyebabkan hutan menjadi gundul? Dapat
dilihat dari pengunaan bahan baku yang terbuat dari kayu, kita tidak menyadari
bahwa secara tidak langsung dengan mengunakan tisu dalam kehidupan sehari –
hari maka kita juga ikut menyumbang dalam penebangan pohon. Hal ini menjadi
miris karena satu pohon ternyata mampu menyediakan oksigen untuk 3 orang, dan
juga menjadi penyerap karbon dan emisi.
Selain
itu, limbah yang dihasilkan dari proses produksi kertas dan tisu juga sangat
besar. Baik secara kuantitatif dalam bentuk cair, gas dan padat maupun secara
kualitatif. Jika kita tidak mulai memperbaiki pola konsumsi kertas dan tisu
sejak sekarang, maka akan terjadi kebiasaan dan menyebabkan pembabatan hutan
terus menerus dan kurang diimbangi dengan penanaman kembali. Hutan yang gundul
tadi menyebabkan terjadinya bencana tanah longsor dan juga mengalami kekeringan
yang berkepanjangan pada saat musim kemarau di sebagian daerah Indonesia.
Oleh
karena itu, melihat fenomena dibalik produksi tisu bisa kita bayangkan efek
global yang bisa ditimbulkan dari selembar tisu. Diawali dengan penebangan
hutan untuk memenuhi kuota produksi pulp, erosi tanah yang timbul akibat hutan
yang gundul, pelepasan gas karbon yang tak terkendali akibat hilangnya hutan
yang berperan dalam mengikat gas karbon. Tingginya konsentrasi CO2 di atmosfir
menyebabkan tingginya suhu bumi yang berdampak pada gangguan keseimbangan
lingkungan hidup di biosfir bumi yang menyebabkan terjadinya pemanasan global (
Global Warming ), hingga limbah
industri pembuatan pulp yang mengandung racun dapat berdampak pada kesehatan
manusia dan lingkungan hidup.
Jika
dilihat kembali, konsumsi tisu Indonesia memang belum sebesar konsumsi negara
lain, apalagi jika dibandingkan dengan negara barat. Namun kita tidak perlu
menunggu untuk melakukan hal yang positif untuk alam. Apalagi ternyata secara
tidak sadar setiap helai tisu yang kita gunakan adalah penentu nasib hutan dan
satwa yang hidup di dalamnya
Sebenarnya tidak
masalah jika harus melakukan penebangan pada hutan, tetapi harus disertai
dengan penanaman kembali terhadap pohon yang telah ditebang tersebut. Hal yang
umumnya membuat hutan di Indonesia menjadi rusak dikarenakan para pelaku
penebangan tidak bertanggung jawab dalam melakukan kegiatan tersebut,
membiarkan hutan begitu saja tanpa adanya penanaman kembali, sehingga akan
menyebabkan hutan menjadi gundul dan hancur..
Marilah
kita sebagai konsumen dan pengguna tisu menjadi lebih bijak dalam menggunakan
si putih tipis nan lembut ini. Lebih baik lagi jika hanya menggunakan tisu yang
sudah mendapat label hijau. Atau ya, berhemat, Bagaimana caranya? Setiap selesai
mencuci tangan, kita bisa mengeringkan tangan kita dengan cara yang menyenangkan,
yakni dengan melakukan 30 claps, atau bisa juga dengan cara mengeringkan tangan
kita menggunakan sapu tangan. Jika kita memerlukan tisu, biasakan untuk tidak
mengambilnya lebih dari satu. Gunakan setiap helai tisumu secara lebih efektif.
Manusia
perlu berfikir dewasa menganggapi fenomena ini. Bila diharuskan memilih antara
kelestarian alam untuk warisan generasi selanjutnya dengan penggunaan tissue
sebagai simbol dari modernitas, kepraktisan, dan keangguhan teknologi, maka
hanya pemikiran manusia bijaklah yang mampu menjawabnya. Belum terlambat untuk
melakukan penghematan dalam menggunakan sumber daya hutan ini, dengan
mengalihkan penggunaan tisu kepada saputangan atau lap kain misalnya, kita bisa
ikut berpartisipasi dalam pelestarian sumber daya hutan kita. Diawali dari
kesadaran diri sendiri, untuk memberikan kontribusi besar dalam kelestarian
hutan global. Diawali dari hal yang kecil, hingga menghasilkan manfaat yang besar.
Terakhir,
mulailah membeli tisu yang berlabel ramah lingkungan. Label Forest Stewardship Council (FSC)
merupakan simbol yang menandakan produk komoditas hutan yang berasal dari hutan
yang dikelola secara bertanggung jawab, baik secara lingkungan maupun sosial.
Ini artinya, tisu yang Anda gunakan didapatkan dari hutan yang tidak merusak
lingkungan, memperhatikan konservasi keanekaragaman hayati, pengurangan emisi
karbon, rehabilitasi hutan, dan memperhatikan hak-hak masyarakat adat,
masyarakat sekitar hutan, dan juga hak pekerja. Menjadi konsumen tisu yang
bijak, penyelamat hutan, dan pahlawan bagi satwa Indonesia.
DEWAPK^^ agen judi terpercaya, ayo segera bergabungan dengan kami
BalasHapusdicoba keberuntungan kalian bersama kami dengan memenangkan uang jutaan rupiah
ditunggu apa lagi segera buka link kami ya :) :) :* :*
Promo Fans^^poker :
BalasHapus- Bonus Freechips 5.000 - 10.000 setiap hari (1 hari dibagikan 1 kali) hanya dengan minimal deposit 50.000 dan minimal deposit 100.000 ke atas
- Bonus Cashback 0.5% dibagikan Setiap Senin
- Bonus Referal 20% Seumur Hidup dibagikan Setiap Kamis